RSS
 

TAFSIR ATH-THABARI

18 Mar

Tafsir Ath-Thabari

Tafsir Ath-Thabari

Tafsir Ath-Thabari

Oleh: Imam Muhammad ibnu Jarir ath-Thabari

Terdiri dari: 26 jilid;  Hard cover

Penerbit: Pustaka Azzam

Tafsir Ath-Thabari adalah kitab tafsir Al-Qur’an paling lengkap, paling tua, dan paling populer di kalangan ulama dan pencari ilmu. Ditulis oleh Imam Muhammad (Abu Ja’far) bin Jarir ath-Thabari (838 – 923 M), ulama asal Tabaristan (Persia). Karya ini aslinya berjudul Jami al-bayan an ta’wil ay al-Qur’an, namun lebih populer sebagai Tafsir Ath-Thabari.

Tafsir ini sangat panjang, awalnya terdiri dari 30 juz besar. Namun kemudian di edit ulang oleh penulisnya (ath-Thabari), dimana seluruhnya membutuhkan 3000 lembar kertas. Ini sekaligus menunjukkan keluasan ilmu sang mufassir. Maka tidaklah heran bila kitab ini menjadi rujukan utama kalangan ahli tafsir kemudian, seperti Imam Ibnu Katsir, Imam as-Suyuthi dan al-Baghawi.

Tafsir Ath-Thabari memuat istinbath (pengambilan hukum), menyampaikan perbedaan pendapat yang ada di kalangan ulama, dan memilih pendapat mana yang lebih kuat di antara pendapat-pendapat itu dengan sisi pandang yang didasarkan kepada logika dan pembahasan nash ilmiah yang teliti.

Imam Suyuthi dalam Al-Itqan mengatakan, “Ia adalah tafsir yang paling baik dan besar, memuat pendapat-pendapat para ulama, dan sekaligus menguatkan pendapat-pendapat itu, dan memuat uraian nahwu serta istinbath hukum. Dengan kelebihannya itu, ia menempati kualitas teratas dari kitab-kitab tafsir sebelumnya.”

Sedang Imam an-Nawawi berkata, “Umat Islam sepakat bahwa tidak ada seorangpun yang menulis tafsir sekaliber Tafsir Ath-Thabari.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkomentar, “Adapun dari tafsir-tafsir yang ada di tangan manusia, yang paling baik adalah tafsir Ibnu Jarir Ath-Thabari. Ini karena ia menyebutkan ucapan-ucapan para salaf dengan sanad-sanad yang kokoh, tidak menukil kebid’ahan, dan tidak menukil dari orang-orang yang diragukan agamanya.” (Fatawa Ibnu Taimiyah, 2/192). Banyak pujian juga datang dari para ulama lainnya.

Jadi, Tafsir Ath-Thabari bisa dikatakan sebagai tafsir pertama dilihat dari waktu penulisan dan penyusunan keilmuannya. Karena kitab tesebut merupakan tafsir pertama yang sampai pada kita di saat tafsir-tafsir yang mendahuluinya telah lenyap ditelan perputaran jaman sehingga tidak sampai ke tangan kita. Adapun dilihat dari sisi penyusunan keilmuannya, maka ia tafsir yang memiliki ciri khas yang ditemukan oleh penulisnya yang kemudian ia tempuh sebagai metode tersendiri hingga ia persembahkan kepada umat manusia sebagai karya yang agung.

Dalam menafsirkan ayat-ayat, Ibnu Jarir ath-Thabari menolak bersandar pada logika semata. Ia umumnya menuliskan riwayat-riwayat beserta sanadnya yang sampai shahabat atau tabi’in, dengan memperhatikan ijma’ Ulama dan mengindahkan perbedaan pendapat bacaan ayat-ayat. Ia juga merujuk kepada bahasa Arab asli dalam menafsirkan kata dalam satu ayat yang kurang jelas.*

 

IMAM IBNU QAYYIM AL-JAUZIYAH

10 Mar

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah

Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Syamsuddin Muhammad bin Abu Bakar bin Ayyoub bin Sa’ad al-Zar’i al-Dimasyqi al-Hanbali. Ia lahir pada 7 Safar 691 H (4 Februari 1292 M) di desa Izra di Hauran, dekat kota Damaskus (Syria). Ia meninggal di usia 60 tahun, tepatnya pada malam 13 Rajab 751 H (23 September 1350), dan dimakamkan di sebelah makam ayahnya di Pemakaman Al-Bab as-Saghir (Damaskus).

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah memiliki keahlian di berbagai bidang ilmu. Ia dikenal ahli dalam bidang tafsir Al-Qur’an, hadits, ilmu kalam, fiqih dan usul fiqih, tapi juga ahli di bidang astronomi, kimia, psikologi, dan filsafat. Tapi lewat berbagai karyanya yang amat banyak, ia kemudian lebih diakui sebagai ‘ahli penyakit hati’ dan ilmu hadits-fiqih.

Gurunya yang pertama adalah ayahnya sendiri, yaitu Abu Bakar, yang mengajarkan ushuluddin (studi dasar-dasar agama).  Ia juga belajar pada Shihaab al-’Abir, Taqiyyuddin Sulaiman, Safiyyuddin al-Hindi, Ismail bin Muhammad al-Harrani dan lainnya. Namun gurunya yang paling terkenal adalah Syaikhul-lslam Ibnu Taimiyah (661-728 H / 1263-1328 M). Ibnu Qayyim menemani dan belajar dari Ibnu Taimiyah selama enam tahun, sampai guru besarnya itu meninggal di dalam penjara akibat fitnah orang-orang yang tidak suka dengan pemahamannya.

Ia juga menekuni tasawuf. Bidang inilah yang membedakannya dengan Ibnu Taimiyah yang bermazhab Hambali. Menurut Ibnu Katsir, salah seorang muridnya, Ibnu Qayyim senang beribadat dan peribadinya disukai masyarakat. “Aku tidak pernah melihat pada zaman kami ini, orang yang kuat beribadat seperti Ibnu Qayyim. Apabila sembahyang, sembahyangnya begitu lama. Beliau memanjang rukuknya dan juga sujudnya,” katanya.

Menurut peneliti Islam Dr. Iwadullah Jad Hijazi, karya Ibnu Qayyim dalam ilmu pengetahuan dan agama berjumlah 66 buah. Dalam bidang tafsir, Ibnu Qayyim menulis Kitab al’Tibyan fi Iqsam Al’Qur’an, Tafsir al-Muuawwizatayn, dan Tafsir Surah al-Fatihah yang terdapat dalam kitabnya Madarij al-Salikin.

Dalam bidang hadits, Ibnu Qayyim menulis Tahdhib al-Siman karya Abu Dawud, al-Wabilal Sayyab min al-Kalam al-Tayyib dan sebagainya.

Dalam fiqh dan ushul fiqh menyumbangkan karya kitab Ilam al-Muwaqqi’in ‘an Rabb al-’Alarum, al-Fawa’id li Ibn Qayyim, al-Turuq al-Hukmiyyah fi al-Siyysah al-Shar’iyyah, dan lainnya. Sedangkan di bidang tasawuf (tazkiyatun nafs), ia menulis Madarij al-Salikin, Rawdah al-Muhibbin wa Nuzhah al-Mushtaqin, Kitab al-Ruh, Hadi al-Arwah ila Bilad al-Afrah, Miftah dar al-Sa’adah, dan lain-lain.

Ia juga menulis beberapa kitab dalam bidang ilmu kalam, filsafat, dan sejarah.

Dalam hidupnya, Ibnu Qayyim sangat menekankan prinsip, bahwa hidup di dunia ini merupakan ujian dan cobaan dari Allah Ta’ala. Menurutnya, ujian yang dikenakan ke manusia itu pada dasarnya anugerah Allah, sebab dengan ujian dan anugerah itulah Allah Ta’ala menampakkan kasih sayang-Nya.

Karena sikapnya yang kritis, pemerintah memenjarakan Ibnu Qayyim bersama gurunya, Ibnu Taimiyah. Ia juga dihina dan diarak berkeliling serta didera dengan cambuk di atas seekor onta. Setelah gurunya wafat, barulah Ibnu Qayyim dilepaskan.

Meski sudah dilepas, tapi ia tetap kritis dan berpegang pada ijtihad serta menjauhi taqlid. Ia mengambil istinbath hukum berdasarkan petunjuk Al-Quran, Sunnah Nabawiyah, dan fatwa-fatwa shahih para sahabat. Karena itu, tak heran bila banyak tokoh-tokoh ternama pernah menjadi muridnya. Di antaranya, anaknya sendiri yang bernama Syarafuddin Abdullah dan Ibrahim, juga Ibnu Katsir ad-Dimasyqi dan Ibnu Rajab al-Hambali al-Baghdadi.*

 

TAMAN PARA PECINTA

16 Feb
TAMAN PARA PECINTA  (Ibnu Qayyim al-Jauziyah)

TAMAN PARA PECINTA (Ibnu Qayyim al-Jauziyah)

Taman Para Pecinta

Oleh: Ibnu Qayyim al-Jauziyah

Isi: xii dan 503 hal. HVS, Hard cover

Ukuran: 15,5 x 24 cm

Penerbit: Khatulistiwa Press

Banyak buku tentang cinta telah ditulis oleh para pengarang, baik yang bernilai sastra tinggi maupun yang berkualitas rendah. Namun buku yang ditulis oleh ulama besar Ibnu Qayyim al-Jauziyah (1292-1350 M) ini punya tempat khusus di belantara kitab cinta klasik.

Buku yang aslinya berjudul Raudhah al-Muhibbin wa Nuzhah al-Musytaqin ini sangat indah, dan layak diapresiasi sebagai sebuah buku sastera bernilai tinggi, bukan semata buku pengetahuan agama. Tanpa sungkan dengan statusnya sebagai seorang ahli fikih dan hadits terkemuka, Ibnu Qayyim dengan lancat bicara dan memperlihatkan kemampuannya yang tinggi di bidang syair, termasuk syair-syair percintaan karya para penyair Arab klasik.

Ibnu Qayyim mampu memotret realitas yang ada di masyarakat dalam kaitannya dengan cinta itu, seperti tentang para pecinta yang dimabuk cinta (’isyq) oleh kekasih mereka. Tapi ia tetap menempatkan agama sebagai batas dalam hubungan antara manusia lain jenis itu.

Inti dari buku ini adalah sebuah pengajaran tentang nilai-nilai cinta yang agung dan suci, yang karenanya ‘cinta’ mesti dijauhkan dari syahwat yang terlarang, yang hanya akan merusak keagungan dan kesucian cinta itu sendiri. Ibnu Qayyim menawarkan konsep cinta ilahiyah, cinta yang berjalan di atas hukum-hukum Tuhan, bukan cinta rendahan kaum hedonis yang mencuri kata cinta guna menutupi syahwat binatang mereka.*

Harga resmi di Toko: Rp 95.000,-
Harga di CORDOVA: Rp 76.000,- (Hemat 20%)

Ongkos kirim ke Jabodetabek: Rp 5.000,- (via Tiki JNE). Wilayah lain konfirmasi dulu. BELI? Klik sini.

 

TUNTUNAN SHALAT RASULULLAH

22 Jan
Tuntunan Shalat Rasulullah (Ibnu Qayyim al-Jauziyah)

Tuntunan Shalat Rasulullah (Ibnu Qayyim al-Jauziyah)

Tuntunan Shalat Rasulullah

Oleh: Ibnu Qayyim al-Jauziyah

Halaman : 450 hal. Hardcover
Penerbit: AKBAR, Jakarta

Buku Tuntunan Shalat Rasulullah ini merupakan buku paling lengkap dan paling detil yang membahas tata cara shalat Rasulullah saw. Lewat buku ini pula, ulama besar Ibnu Qayyim al-Jauziyah ini membuktikan penguasaan beliau yang sangat mendalam terhadap ilmu hadits dan ilmu fikih.

Imam Ibnul Qayyim selama ini lebih banyak dikenal di negeri ini lewat karya-karyanya yang bertema penyucian hati (tazkiyatun nafs), meski sebetulnya beliau menguasai banyak bidang keilmuan.

Karya ini lahir dari penelitian atas literatur hadits yang lama dan intensif, ditambah bimbingan guru utama beliau, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Tak heran kalau dalam buku ini kita menemukan ulasan yang sangat rinci terhadap berbagai aspek tata cara shalat Nabi saw., berdasarkan literatur hadits-hadits shahih, dan pengambilan hukum yang cerdas.

Di buku ini kita juga menemukan banyak jawaban atas praktek shalat kaum muslimin saat ini, yang beberapa diantaranya tidak sesuai dengan tuntunan shalat dari Rasulullah saw.

Semoga buku ini bisa makin mendekatkan shalat kita dengan shalat yang dilakukan Nabi saw. dan para sahabatnya. Sebab kita memang tegas Diperintah untuk menunaikan shalat sesuai dengan shalatnya Rasulullah saw.

Harga resmi di Toko: Rp 59.500,-
Harga di CORDOVA: Rp 47.600,- (HEMAT 20%)

Ongkos kirim ke Jabodetabek: Rp 5.000,- (via Tiki JNE). Wilayah lain konfirmasi dulu. BELI? Klik sini.

 
No Comments

Posted in Ibadah