RSS
 

Archive for March, 2010

TAFSIR ATH-THABARI

18 Mar

Tafsir Ath-Thabari

Tafsir Ath-Thabari

Tafsir Ath-Thabari

Oleh: Imam Muhammad ibnu Jarir ath-Thabari

Terdiri dari: 26 jilid;  Hard cover

Penerbit: Pustaka Azzam

Tafsir Ath-Thabari adalah kitab tafsir Al-Qur’an paling lengkap, paling tua, dan paling populer di kalangan ulama dan pencari ilmu. Ditulis oleh Imam Muhammad (Abu Ja’far) bin Jarir ath-Thabari (838 – 923 M), ulama asal Tabaristan (Persia). Karya ini aslinya berjudul Jami al-bayan an ta’wil ay al-Qur’an, namun lebih populer sebagai Tafsir Ath-Thabari.

Tafsir ini sangat panjang, awalnya terdiri dari 30 juz besar. Namun kemudian di edit ulang oleh penulisnya (ath-Thabari), dimana seluruhnya membutuhkan 3000 lembar kertas. Ini sekaligus menunjukkan keluasan ilmu sang mufassir. Maka tidaklah heran bila kitab ini menjadi rujukan utama kalangan ahli tafsir kemudian, seperti Imam Ibnu Katsir, Imam as-Suyuthi dan al-Baghawi.

Tafsir Ath-Thabari memuat istinbath (pengambilan hukum), menyampaikan perbedaan pendapat yang ada di kalangan ulama, dan memilih pendapat mana yang lebih kuat di antara pendapat-pendapat itu dengan sisi pandang yang didasarkan kepada logika dan pembahasan nash ilmiah yang teliti.

Imam Suyuthi dalam Al-Itqan mengatakan, “Ia adalah tafsir yang paling baik dan besar, memuat pendapat-pendapat para ulama, dan sekaligus menguatkan pendapat-pendapat itu, dan memuat uraian nahwu serta istinbath hukum. Dengan kelebihannya itu, ia menempati kualitas teratas dari kitab-kitab tafsir sebelumnya.”

Sedang Imam an-Nawawi berkata, “Umat Islam sepakat bahwa tidak ada seorangpun yang menulis tafsir sekaliber Tafsir Ath-Thabari.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkomentar, “Adapun dari tafsir-tafsir yang ada di tangan manusia, yang paling baik adalah tafsir Ibnu Jarir Ath-Thabari. Ini karena ia menyebutkan ucapan-ucapan para salaf dengan sanad-sanad yang kokoh, tidak menukil kebid’ahan, dan tidak menukil dari orang-orang yang diragukan agamanya.” (Fatawa Ibnu Taimiyah, 2/192). Banyak pujian juga datang dari para ulama lainnya.

Jadi, Tafsir Ath-Thabari bisa dikatakan sebagai tafsir pertama dilihat dari waktu penulisan dan penyusunan keilmuannya. Karena kitab tesebut merupakan tafsir pertama yang sampai pada kita di saat tafsir-tafsir yang mendahuluinya telah lenyap ditelan perputaran jaman sehingga tidak sampai ke tangan kita. Adapun dilihat dari sisi penyusunan keilmuannya, maka ia tafsir yang memiliki ciri khas yang ditemukan oleh penulisnya yang kemudian ia tempuh sebagai metode tersendiri hingga ia persembahkan kepada umat manusia sebagai karya yang agung.

Dalam menafsirkan ayat-ayat, Ibnu Jarir ath-Thabari menolak bersandar pada logika semata. Ia umumnya menuliskan riwayat-riwayat beserta sanadnya yang sampai shahabat atau tabi’in, dengan memperhatikan ijma’ Ulama dan mengindahkan perbedaan pendapat bacaan ayat-ayat. Ia juga merujuk kepada bahasa Arab asli dalam menafsirkan kata dalam satu ayat yang kurang jelas.*

 

IMAM IBNU QAYYIM AL-JAUZIYAH

10 Mar

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah

Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Syamsuddin Muhammad bin Abu Bakar bin Ayyoub bin Sa’ad al-Zar’i al-Dimasyqi al-Hanbali. Ia lahir pada 7 Safar 691 H (4 Februari 1292 M) di desa Izra di Hauran, dekat kota Damaskus (Syria). Ia meninggal di usia 60 tahun, tepatnya pada malam 13 Rajab 751 H (23 September 1350), dan dimakamkan di sebelah makam ayahnya di Pemakaman Al-Bab as-Saghir (Damaskus).

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah memiliki keahlian di berbagai bidang ilmu. Ia dikenal ahli dalam bidang tafsir Al-Qur’an, hadits, ilmu kalam, fiqih dan usul fiqih, tapi juga ahli di bidang astronomi, kimia, psikologi, dan filsafat. Tapi lewat berbagai karyanya yang amat banyak, ia kemudian lebih diakui sebagai ‘ahli penyakit hati’ dan ilmu hadits-fiqih.

Gurunya yang pertama adalah ayahnya sendiri, yaitu Abu Bakar, yang mengajarkan ushuluddin (studi dasar-dasar agama).  Ia juga belajar pada Shihaab al-’Abir, Taqiyyuddin Sulaiman, Safiyyuddin al-Hindi, Ismail bin Muhammad al-Harrani dan lainnya. Namun gurunya yang paling terkenal adalah Syaikhul-lslam Ibnu Taimiyah (661-728 H / 1263-1328 M). Ibnu Qayyim menemani dan belajar dari Ibnu Taimiyah selama enam tahun, sampai guru besarnya itu meninggal di dalam penjara akibat fitnah orang-orang yang tidak suka dengan pemahamannya.

Ia juga menekuni tasawuf. Bidang inilah yang membedakannya dengan Ibnu Taimiyah yang bermazhab Hambali. Menurut Ibnu Katsir, salah seorang muridnya, Ibnu Qayyim senang beribadat dan peribadinya disukai masyarakat. “Aku tidak pernah melihat pada zaman kami ini, orang yang kuat beribadat seperti Ibnu Qayyim. Apabila sembahyang, sembahyangnya begitu lama. Beliau memanjang rukuknya dan juga sujudnya,” katanya.

Menurut peneliti Islam Dr. Iwadullah Jad Hijazi, karya Ibnu Qayyim dalam ilmu pengetahuan dan agama berjumlah 66 buah. Dalam bidang tafsir, Ibnu Qayyim menulis Kitab al’Tibyan fi Iqsam Al’Qur’an, Tafsir al-Muuawwizatayn, dan Tafsir Surah al-Fatihah yang terdapat dalam kitabnya Madarij al-Salikin.

Dalam bidang hadits, Ibnu Qayyim menulis Tahdhib al-Siman karya Abu Dawud, al-Wabilal Sayyab min al-Kalam al-Tayyib dan sebagainya.

Dalam fiqh dan ushul fiqh menyumbangkan karya kitab Ilam al-Muwaqqi’in ‘an Rabb al-’Alarum, al-Fawa’id li Ibn Qayyim, al-Turuq al-Hukmiyyah fi al-Siyysah al-Shar’iyyah, dan lainnya. Sedangkan di bidang tasawuf (tazkiyatun nafs), ia menulis Madarij al-Salikin, Rawdah al-Muhibbin wa Nuzhah al-Mushtaqin, Kitab al-Ruh, Hadi al-Arwah ila Bilad al-Afrah, Miftah dar al-Sa’adah, dan lain-lain.

Ia juga menulis beberapa kitab dalam bidang ilmu kalam, filsafat, dan sejarah.

Dalam hidupnya, Ibnu Qayyim sangat menekankan prinsip, bahwa hidup di dunia ini merupakan ujian dan cobaan dari Allah Ta’ala. Menurutnya, ujian yang dikenakan ke manusia itu pada dasarnya anugerah Allah, sebab dengan ujian dan anugerah itulah Allah Ta’ala menampakkan kasih sayang-Nya.

Karena sikapnya yang kritis, pemerintah memenjarakan Ibnu Qayyim bersama gurunya, Ibnu Taimiyah. Ia juga dihina dan diarak berkeliling serta didera dengan cambuk di atas seekor onta. Setelah gurunya wafat, barulah Ibnu Qayyim dilepaskan.

Meski sudah dilepas, tapi ia tetap kritis dan berpegang pada ijtihad serta menjauhi taqlid. Ia mengambil istinbath hukum berdasarkan petunjuk Al-Quran, Sunnah Nabawiyah, dan fatwa-fatwa shahih para sahabat. Karena itu, tak heran bila banyak tokoh-tokoh ternama pernah menjadi muridnya. Di antaranya, anaknya sendiri yang bernama Syarafuddin Abdullah dan Ibrahim, juga Ibnu Katsir ad-Dimasyqi dan Ibnu Rajab al-Hambali al-Baghdadi.*