<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blog CORDOVA Bookstore Online</title>
	<atom:link href="http://cordova-bookstore.com/blog/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://cordova-bookstore.com/blog</link>
	<description>www.cordova-bookstore.com</description>
	<lastBuildDate>Mon, 24 Oct 2011 14:45:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.3</generator>
		<item>
		<title>Buku Fiqih tentang Wanita</title>
		<link>http://cordova-bookstore.com/blog/buku-fiqih-tentang-wanita/</link>
		<comments>http://cordova-bookstore.com/blog/buku-fiqih-tentang-wanita/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Feb 2011 14:00:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cordova</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku Hadits & Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[buku fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[buku wanita islam]]></category>
		<category><![CDATA[fikih wanita]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih wanita]]></category>
		<category><![CDATA[shahih fiqih wanita]]></category>
		<category><![CDATA[utsaimin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cordova-bookstore.com/blog/?p=96</guid>
		<description><![CDATA[Dua Buku Fiqih Wanita Terlaris Ada banyak buku fiqih tentang wanita, yang mengupas hukum-hukum agama yang terkait dengan wanita. Tapi ada dua judul yang menonjol di pasar buku Islam di Indonesia saat ini. Yang pertama adalah: FIQIH WANITA, karya Syaikh Kamil Muhammad &#8216;Uwaidah, yang diterbitkan oleh Pustaka al-Kautsar. Dan yang kedua adalah: SHAHIH FIQIH WANITA, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><b></b></p>
<h1><span style="color: #0000ff;">Dua Buku Fiqih Wanita Terlaris</span></h1>
<p><b></b><br />
Ada banyak buku <a title="buku fiqih" href="http://www.cordova-bookstore.com/bukufiqih.htm" target="_blank">fiqih</a> tentang <a title="buku wanita" href="http://www.cordova-bookstore.com/wanita.htm" target="_blank">wanita</a>, yang mengupas hukum-hukum agama yang terkait dengan wanita.  Tapi ada dua judul yang menonjol di pasar buku Islam di Indonesia saat ini.</p>
<p>Yang pertama adalah: <a title="fiqih wanita" href="http://www.cordova-bookstore.com/alkautsar/fiqihwanita.htm"><strong>FIQIH WANITA</strong></a>, karya Syaikh Kamil Muhammad &#8216;Uwaidah, yang diterbitkan oleh Pustaka al-Kautsar. Dan yang kedua adalah: <a title="shahih fiqih wanita" href="http://www.cordova-bookstore.com/akbar/fiqihwanita_utsaimin.htm"><strong>SHAHIH FIQIH WANITA</strong></a>, karya Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, yang terbitkan oleh Penerbit Akbar.</p>
<p><a title="fiqih wanita" href="http://www.cordova-bookstore.com/alkautsar/fiqihwanita.htm"><strong>Fiqih Wanita</strong></a> pertama kali terbit pada tahun 1998, lama menjadi buku paling <em>best seller</em> di Pustaka Al-Kautsar. Sampai hari ini tercatat sudah mengalami cetak ulang sampai ke-28 kali! Edisi terakhir buku yang tebalnya 740 halaman ini berharga resmi Rp 108.000,-</p>
<p>Sedangkan <a title="shahih fiqih wanita" href="http://www.cordova-bookstore.com/akbar/fiqihwanita_utsaimin.htm"><strong>Shahih Fiqih Wanita</strong></a> merupakan buku baru, terbit tahun lalu (2010). Buku karya ulama besar Syeikh Muhammad Shalih al-Utsaimin ini langsung laris di pasaran, terutama di kalangan kaum salafi. Cetakan pertama buku ini cepat ludes di pasaran, yang disusul dengan cetakan kedua. Buku ini dijual dengan harga: Rp 95.000,-</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cordova-bookstore.com/blog/buku-fiqih-tentang-wanita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ibnu Atha&#8217;illah</title>
		<link>http://cordova-bookstore.com/blog/ibnu-athaillah/</link>
		<comments>http://cordova-bookstore.com/blog/ibnu-athaillah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Feb 2011 10:35:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cordova</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahli Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Penulis Klasik Luar Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>
		<category><![CDATA[al hikam]]></category>
		<category><![CDATA[al syadzili]]></category>
		<category><![CDATA[ibnu atha'illah]]></category>
		<category><![CDATA[kitab al hikam]]></category>
		<category><![CDATA[syekh ibnu athaillah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cordova-bookstore.com/blog/?p=91</guid>
		<description><![CDATA[Syekh Ibnu Atha&#8217;illah, Penulis Kitab Al-Hikam Nama lengkapnya adalah Syekh Ahmad ibnu Muhammad Ibnu Atha’illah as-Sakandari. Ia lahir di Iskandariah (Mesir) pada 648 H/1250 M, dan meninggal di Kairo pada 1309 M. Julukan al-Iskandari atau as-Sakandari merujuk kota kelahirannya itu. Sejak kecil, Ibnu Atha’illah dikenal gemar belajar. Ia menimba ilmu dari beberapa syekh secara bertahap. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><b></b></p>
<h1><strong><span style="color: #0000ff;">Syekh Ibnu Atha&#8217;illah, Penulis Kitab Al-Hikam</span></strong></h1>
<p><strong></strong><br />
Nama lengkapnya adalah Syekh Ahmad ibnu Muhammad Ibnu Atha’illah as-Sakandari. Ia lahir di Iskandariah (Mesir) pada 648 H/1250 M, dan meninggal di Kairo pada 1309 M. Julukan al-Iskandari atau as-Sakandari merujuk kota kelahirannya itu.</p>
<p>Sejak kecil, Ibnu Atha’illah dikenal gemar belajar. Ia menimba ilmu dari beberapa syekh secara bertahap. Gurunya yang paling dekat adalah Abu al-Abbas Ahmad ibnu Ali al-Anshari al-Mursi, murid dari Abu al-Hasan al-Syadzili, pendiri tarikat Al-Syadzili. Dalam bidang fiqih ia menganut dan menguasai Mazhab Maliki, sedangkan di bidang tasawuf ia termasuk pengikut sekaligus tokoh tarikat Al-Syadzili.</p>
<p>Ibnu Atha&#8217;illah tergolong ulama yang produktif. Tak kurang dari 20 karya yang pernah dihasilkannya. Meliputi bidang tasawuf, tafsir, aqidah, hadits, nahwu, dan ushul fiqh. Dari beberapa karyanya itu yang paling terkenal adalah <a title="kitab al hikam" href="http://www.cordova-bookstore.com/khat/alhikam.htm" target="_blank"><strong><em>Kitab</em></strong> <strong><em>Al-Hikam</em></strong></a>. Buku ini disebut-sebut sebagai <em>magnum opus</em>-nya. Kitab itu sudah beberapa kali di-<em>syarah</em>, antara lain oleh Muhammad bin Ibrahim ibnu Ibad ar-Rasyid-Rundi, Syaikh Ahmad Zarruq, dan Ahmad ibnu Ajiba.</p>
<p>Beberapa kitab lainnya yang ditulis olehnya adalah <em>Al-Tanwir fi Isqath al-Tadbir, Unwan at-Taufiq fi’dab al-Thariq, Miftah al-Falah</em> dan <em>Al-Qaul al-Mujarrad fil al-Ism al-Mufrad</em>. Yang terakhir ini merupakan tanggapan terhadap Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah mengenai persoalan tauhid.<br />
<span id="more-91"></span><br />
Kedua ulama besar itu memang hidup dalam satu zaman, dan kabarnya beberapa kali terlibat dalam dialog yang berkualitas tinggi dan sangat santun. Ibnu Taimiyyah adalah sosok ulama yang tidak menyukai praktek sufisme. Sementara Ibnu Atha&#8217;illah dan para pengikutnya melihat tidak semua jalan sufisme itu salah. Karena mereka juga ketat dalam urusan syari’at.</p>
<p>Ibnu Atha&#8217;illah dikenal sebagai sosok yang dikagumi dan bersih. Ia menjadi panutan bagi banyak orang yang meniti jalan menuju Tuhan. Menjadi teladan bagi orang-orang yang ikhlas, dan imam bagi para juru nasihat.</p>
<p>Ia dikenal sebagai master atau syekh ketiga dalam lingkungan tarikat Syadzili setelah pendirinya Abu al-Hasan asy-Syadzili dan penerusnya, Abu al-Abbas al-Mursi. Dan Ibnu Atha&#8217;illah inilah yang pertama menghimpun ajaran-ajaran, pesan-pesan, doa dan biografi keduanya, sehingga khazanah tarikat Syadziliyah tetap terpelihara.</p>
<p>Meski ia tokoh kunci di sebuah tarikat, bukan berarti aktifitas dan pengaruh intelektualismenya hanya terbatas di tarikat saja. Buku-buku Ibnu Atha&#8217;illah dibaca luas oleh kaum muslimin dari berbagai kelompok, bersifat lintas mazhab dan tarikat, terutama kitab <strong>Al-Hikam</strong>.</p>
<p><strong>Kitab Al-Hikam</strong> ini merupakan karya utama Ibnu Atha’illah, yang sangat populer di dunia Islam selama berabad-abad, sampai hari ini. Kitab ini juga menjadi bacaan utama di hampir seluruh pesantren di Nusantara.</p>
<p>Syekh Ibnu Atha’illah menghadirkan Kitab Al-Hikam dengan sandaran utama pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Guru besar spiritualisme ini menyalakan pelita untuk menjadi penerang bagi setiap salik, menunjukkan segala aral yang ada di setiap kelokan jalan, agar kita semua selamat menempuhnya.</p>
<p>Kitab Al-Hikam merupakan ciri khas pemikiran Ibnu Atha’illah, khususnya dalam paradigma tasawuf. Di antara para tokoh sufi yang lain seperti Al-Hallaj, Ibnul Arabi, Abu Husen an-Nuri, dan para tokoh sufisme falsafi yang lainnya, kedudukan pemikiran Ibnu Atha’illah bukan sekedar bercorak tasawuf falsafi yang mengedepankan teologi. Tetapi diimbangi dengan unsur-unsur pengamalan ibadah dan suluk, artinya di antara syari’at, tarikat dan hakikat ditempuh  dengan cara metodis. Corak Pemikiran Ibnu Atha’illah dalam bidang tasawuf sangat berbeda dengan para tokoh sufi lainnya. Ia lebih menekankan nilai tasawuf  pada ma’rifat.</p>
<p>Adapun pemikiran-pemikiran tarikat tersebut adalah: <em>Pertama</em>, tidak dianjurkan kepada para muridnya untuk meninggalkan profesi dunia mereka. Dalam hal pandangannya mengenai pakaian, makanan,  dan kendaraan yang layak dalam kehidupan yang sederhana akan menumbuhkan rasa syukur kepada Allah dan mengenal rahmat Illahi.</p>
<p>&#8220;Meninggalkan dunia yang berlebihan akan menimbulkan hilangnya rasa syukur. Dan berlebih-lebihan dalam memanfaatkan dunia akan membawa kepada kezaliman. Manusia sebaiknya menggunakan nikmat Allah SWT dengan sebaik-baiknya sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya,&#8221; kata Ibnu Atha&#8217;illah.</p>
<p><em>Kedua</em>, tidak mengabaikan penerapan syari’at Islam. Ia adalah salah satu tokoh sufi yang menempuh jalur tasawuf hampir searah dengan Al-Ghazali, yakni suatu tasawuf yang berlandaskan kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Mengarah kepada asketisme, pelurusan dan penyucian jiwa (<em>tazkiyah an-nafs</em>), serta pembinaan moral (akhlak), suatu nilai tasawuf yang dikenal cukup moderat.</p>
<p><em>Ketiga</em>,  zuhud tidak berarti harus menjauhi dunia karena pada dasarnya zuhud adalah mengosongkan hati selain daripada Tuhan. Dunia yang dibenci para sufi adalah dunia yang melengahkan dan memperbudak manusia. Kesenangan dunia adalah tingkah laku syahwat, berbagai keinginan yang tak kunjung habis, dan hawa nafsu yang tak kenal puas. &#8220;Semua itu hanyalah permainan (<em>al-la’b</em>) dan senda gurau (<em>al-lahwu</em>) yang akan melupakan Allah. Dunia semacam inilah yang dibenci kaum sufi,&#8221; ujarnya.</p>
<p><em>Keempat</em>,  tidak ada halangan bagi kaum <em>salik</em> untuk menjadi miliuner yang kaya raya, asalkan hatinya tidak bergantung pada harta yang dimiliknya. Seorang <em>salik</em> boleh mencari harta kekayaan, namun jangan sampai melalaikan-Nya dan jangan sampai menjadi hamba dunia. Seorang <em>salik</em>, kata Atha&#8217;illah, tidak bersedih ketika kehilangan harta benda dan tidak dimabuk kesenangan ketika mendapatkan harta.</p>
<p><em>Kelima</em>, berusaha merespons apa yang sedang mengancam kehidupan umat, berusaha menjembatani antara kekeringan spiritual yang dialami orang yang hanya sibuk dengan urusan duniawi, dengan sikap pasif yang banyak dialami para salik.</p>
<p><em>Keenam</em>, tasawuf adalah latihan-latihan jiwa dalam rangka ibadah dan menempatkan diri sesuai dengan ketentuan Allah. Bagi Syekh Atha&#8217;illah, tasawuf memiliki empat aspek penting yakni berakhlak dengan akhlak Allah swt.,  senantiasa melakukan perintah-Nya, dapat menguasai hawa nafsunya serta berupaya selalu bersama dan berkekalan dengan-Nya secara sunguh-sungguh.</p>
<p><em>Ketujuh</em>, dalam kaitannya dengan makrifat al-Syadzili, ia berpendapat bahwa makrifat adalah salah satu tujuan dari tasawuf yang dapat diperoleh dengan dua jalan; <em>mawahib</em>, yaitu Tuhan memberikannya tanpa usaha dan Dia memilihnya sendiri orang-orang yang akan diberi anugerah tersebut; dan <em>makasib</em>, yaitu makrifat akan dapat diperoleh melalui usaha keras seseorang, melalui <em>ar-riyadhah</em>, zikir, wudhu, puasa, shalat sunnah dan amal shalih lainnya.*</p>
<p>Sumber: Republika</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cordova-bookstore.com/blog/ibnu-athaillah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ath-Thabari</title>
		<link>http://cordova-bookstore.com/blog/ath-thabari/</link>
		<comments>http://cordova-bookstore.com/blog/ath-thabari/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Feb 2011 12:46:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cordova</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahli Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ahli Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Ahli Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Penulis Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Penulis Klasik Luar Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[ath thabari]]></category>
		<category><![CDATA[ibnu jarir]]></category>
		<category><![CDATA[ibnu jarir ath thabari]]></category>
		<category><![CDATA[tabari]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir thabari]]></category>
		<category><![CDATA[thabari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cordova-bookstore.com/blog/?p=77</guid>
		<description><![CDATA[IBNU JARIR ATH-THABARI, Induk Para Ahli Tafsir Memahami Al-Qur’an, teks yang berisi firman Allah, tak jarang memerlukan sebuah tafsir. Melalui tafsir kita mampu memahami apa yang dimaksud Allah dalam firman-Nya itu. Tak heran jika di kalangan umat Islam bermunculan ahli tafsir dengan beragam karyanya. Melalui karya para ahli tafsir Al-Qur’an itu, masyarakat awam mampu memahami [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><b></b></p>
<h1><span style="color: #0000ff;"><strong>IBNU JARIR ATH-THABARI, </strong></span><span style="color: #0000ff;"><strong><br />
<strong></strong><br />
Induk Para Ahli <strong></strong>Tafsir</strong></span></h1>
<p><strong></strong><br />
Memahami Al-Qur’an, teks yang berisi firman Allah, tak jarang memerlukan sebuah tafsir. Melalui tafsir kita mampu memahami apa yang dimaksud Allah dalam firman-Nya itu. Tak heran jika di kalangan umat Islam bermunculan ahli tafsir dengan beragam karyanya. Melalui karya para ahli <a title="buku tafsir al quran" href="http://www.cordova-bookstore.com/bukutafsir.htm" target="_blank">tafsir Al-Qur’an</a> itu, masyarakat awam mampu memahami isi Al-Qur’an.</p>
<p>Salah satu ahli tafsir yang sangat berjasa ialah <strong><a title="ibnu jarir ath thabari" href="http://cordova-bookstore.com/blog/ath-thabari/">Ibnu Jarir ath-Thabari</a></strong>. Nama lengkapnya: Abu Ja’far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib ath-Thabari. Ia lahir di Thabaristan, daerah pegunungan Persia pada 224 H.</p>
<p><strong>Perintis Sejarah Islam</strong></p>
<p>Kecermelangan otak ath-Thabari tercermin dari kegemarannya terhadap ilmu sejak ia masih belia. Pada saat berusia 8 tahun, ia sudah dipercaya menjadi imam bagi orang-orang dewasa. Bahkan, setahun kemudian ia menuliskan banyak hadits.</p>
<p>Ketika beranjak dewasa, rasa dahaganya akan ilmu telah mengantar ath-Thabari pada jalan pengembaraan ke berbagai kota pusat ilmu. Ia mengembara ke Baghdad, Wasit, Bashra, Kufah, Fustat, Syria, dan Mesir.<br />
<span id="more-77"></span><br />
Di setiap kota yang disinggahinya ia belajar ilmu dari ulama-ulama besar dalam bidangnya. Dalam bidang hadits, ia belajar dari ulama besar hadits, Muhammad bin Humaid ar-Razi. Dari gurunya itu, Thabari mampu menulis lebih dari 100 ribu hadits. Ia juga dapat menuliskan jumlah hadits yang sama dari guru lainnya, Abu Kuwait.</p>
<p>Dalam bidang sejarah, ia tercatat sebagai perintis sejarah Islam. Ia mendapatkan gelar Bapak Sejarah Islam karena jasanya meretas jalan di bidang kajian itu. Ilmunya dalam bidang ini pun berhasil diabadikan dalam sebuah karyanya yang agung berjudul: <em>Tarikhul Umam wal Muluk</em>, “Sejarah Umat-umat dan Para Rajanya”.</p>
<p>Ilmu hadits, sejarah, dan Al-Qur’an yang dikuasai menjadi modal bagi ath-Thabari untuk menguasai tafsir Al-Qur’an. Ia tumbuh menjadi ahli tafsir yang menjadi rujukan dan melahirkan karya yang monumental. Tafsir <em>Jami’ul Bayan  fit Tafsiril Qur’an</em>, yang lebih dikenal dengan <a title="tafsir ath thabari" href="http://www.cordova-bookstore.com/azzam/tafsir_thabari.htm" target="_blank"><strong>Tafsir Ath-Thabari</strong></a>, merupakan referensi bagi ahli tafsir lain setelah masanya.</p>
<p>Dengan karya besarnya itu, kemudian ath-Thabari mendapatkan julukan <em>marja’ul maraji</em> (induk para ahli tafsir). Ia adalah ahli tafsir awal yang karya tafsirnya sampai kepada masyarakat setelah masanya. Karyanya merupakan sebuah karya yang fenomenal.</p>
<p><strong>Paling Sahih</strong></p>
<p>Sebelum ath-Thabari, memang banyak ahli tafsir yang lahir. Namun, karya mereka tak banyak ditemukan. Wajar saja jika semua ahli tafsir tak dapat memalingkan diri dari karya tafsirnya. Selain itu, <strong>Tafsir Ath-Thabari</strong> memiliki kualitas yang tinggi.</p>
<p>Tafsirnya penuh dengan pijakan tafsiran Rasulullah (sunnah), pendapat para sahabat dan <em>tabi’in</em> serta <em>tabi’ut tabi’in</em>. Tafsir yang demikian lebih dikenal dengan tafsir <em>bil ma’tsur</em>, tafsir berdasarkan riwayat dan bukan tafsir <em>bir-ra’yi</em> yang berarti tafsir yang didasarkan akal dan pendapat pribadi.</p>
<p>Ath-Thabari memang memiliki kelebihan dalam beragam bidang. Kelebihannya ini membuat karya tafsirnya dianggap paling sahih dan hidup. Ahli tafsir ini amat menguasai sejarah, hadits maupun fikih. Bahkan dalam fikih ia mendapatkan gelar sebagai mujtahid mutlak. Laiknya para imam besar fikih perintis, seperti Imam Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali.</p>
<p>Karya tafsirnya dianggap sahih karena ia selalu menafsirkan suatu ayat dalam kitab suci dengan berpegang pada pendapat para sahabat dan <em>tabi’in</em>. Thabari selalu mencoba mencari pendapat yang kuat dengan memperlihatkan kekuatan dan kelemahan masing-masing dari berbagai segi. Kemudian ia akan mengambil pendapat yang paling valid dan argumentatif.</p>
<p>Sering ia menolak hadits untuk dijadikan argumentasi dalam sebuah penafsiran. Itu bila ia menganggap hadits tersebut lemah. Selain itu, juga karena hadits tersebut dianggapnya tak sesuai menjadi pijakan argumentasi dari suatu ayat yang ia tafsirkan.</p>
<p>Biasanya, ath-Thabari mengambil langkah awal menafsirkan sebuah tafsir dengan mencari makna suatu ayat dari segi bahasa. Ia memahami arti lahiriah kata per kata. Untungnya, ia memiliki kemampuan dalam bidang bahasa dan sastra. Tahap selanjutnya, ia pun memasukkan aspek lain dalam melakukan penafsiran.</p>
<p><strong>Hidup sederhana</strong></p>
<p>Dalam melakukan penafsiran, ia dikenal sebagai orang yang sangat hati-hati. Tak heran jika karya tafsirnya dinilai berbobot dan mendapatkan kepercayaan yang besar. Terbukti, karya tafsirnya hingga kini menjadi bahan rujukan para penafsir kontemporer.</p>
<p>Ini terlihat dari komentar Syekh al-Islam Taqiyuddin Ahmad ibnu Taimiyah saat disodori pertanyaan tafsir mana yang lebih dekat kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Ia menjawab dari semua tafsir yang ada, karya ath-Thabari merupakan karya yang paling otentik. Dalam tafsirnya, ath-Thabari memuat ajaran salaf dengan rangkaian sanad yang sahih.</p>
<p>Hal senada juga dilontarkan oleh Fuad Sezkin. Ia menaruh perhatian pada kesahihan sanad dalam <strong>Tafsir Ath-Thabari</strong>. Ini mengindikasikan bahwa ketika menuliskan tafsirnya, ath-Thabari merujuk pada kitab-kitab yang telah ada lebih awal. Ini pun membantah gunjingan para orientalis bahwa <strong>Tafsir Ath-Thabari</strong> hanya berdasar pada cerita lisan.</p>
<p>Meski dikenal khalayak melalui karya tafsirnya, ath-Thabari adalah orang yang sederhana. Ia berusaha menjauhi kehidupan duniawi, dengan selalu mengembangkan kehidupan zuhud, wara dan tawadhu. Salah seorang muridnya, bernama Abu Bakran bin Kamil, pernah bertutur mengenai laku keseharian yang menunjukkan kesederhanaan ahli tafsir ini.</p>
<p>Bila musim panas tiba, Thabari hanya mengonsumsi kurma yang dicampur dengan minyak. Tempat tidurnya hanya beralaskan kain tipis. Biasanya, selepas shalat dzuhur ia akan menulis hingga empat puluh halaman. Ini ia lakukan selama 40 tahun. Waktu ashar ia akan bergegas ke masjid untuk berjamaah kemudian mengkaji Al-Qur’an.</p>
<p>Ath-Thabari tak hanya menggunakan hidupnya untuk dirinya sendiri. Ia juga memanfaatkan kemampuannya untuk memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat sekitarnya. Ia menyediakan waktu khusus mengajarkan ilmunya, yakni setelah menunaikan shalat maghrib hingga habis waktu isya.</p>
<p>Ath-Thabari tak hanya memberikan manfaat bagi kalangan masyarakat pada masanya. Ia meninggalkan karya yang sangat bermanfaat dan menjadi rujukan kalangan masyarakat hingga kini. Hidupnya yang penuh manfaat berakhir di usia relative tua. Ia wafat dalam usia 86 tahun pada tahun 310 H di Baghdad.*</p>
<p>Sumber: Dialog Jum&#8217;at REPUBLIKA</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cordova-bookstore.com/blog/ath-thabari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>IMAM BUKHARI</title>
		<link>http://cordova-bookstore.com/blog/imam-bukhari/</link>
		<comments>http://cordova-bookstore.com/blog/imam-bukhari/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Feb 2011 02:04:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cordova</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahli Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Penulis Klasik Luar Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[ahli hadits]]></category>
		<category><![CDATA[bukhara]]></category>
		<category><![CDATA[bukhari]]></category>
		<category><![CDATA[imam bukhari]]></category>
		<category><![CDATA[samarkand]]></category>
		<category><![CDATA[shahih bukhari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cordova-bookstore.com/blog/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[Biografi Singkat Imam Bukhari Kelahiran dan Masa Kecil Imam Bukhari Imam Bukhari (semoga Allah merahmatinya) lahir di Bukhara (sekarang di negara Uzbekistan), di kawasan Asia Tengah. Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Ju’fiy al-Bukhari, namun beliau lebih dikenal dengan nama Bukhari. Beliau lahir pada hari Jumat, tepatnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<h1><span style="color: #0000ff;">Biografi Singkat Imam Bukhari</span></h1>
<p><strong> </strong><br />
<strong>Kelahiran dan Masa Kecil Imam Bukhari</strong></p>
<p><a title="imam bukhari" href="http://cordova-bookstore.com/blog/imam-bukhari/"><strong>Imam Bukhari</strong></a> (semoga Allah merahmatinya) lahir di Bukhara (sekarang di negara Uzbekistan), di kawasan Asia Tengah. Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Ju’fiy al-Bukhari, namun beliau lebih dikenal dengan nama Bukhari. Beliau lahir pada hari Jumat, tepatnya pada tanggal 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 M). Kakeknya bernama Bardizbeh, keturunan Persia yang masih beragama Zoroaster. Tapi ayahnya, Mughirah, telah memeluk Islam di bawah asuhan Al-Yaman el-Ja’fiy.</p>
<p>Sebenarnya masa kecil Imam Bukhari penuh dengan keprihatinan. Di samping menjadi anak yatim, juga tidak dapat melihat karena buta (tidak lama setelah lahir, beliau kehilangan penglihatannya tersebut). Ibunya senantiasa berusaha dan berdoa untuk kesembuhan beliau. Alhamdulillah, dengan izin dan karunia Allah, menjelang usia 10 tahun matanya sembuh secara total.</p>
<p>Imam Bukhari adalah ahli hadits termasyhur diantara para ahli hadits sejak dulu hingga kini bersama dengan Imam Ahmad, Imam Muslim, Abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasa&#8217;i, dan Ibnu Majah. Bahkan dalam kitab-kitab fiqih dan hadits, hadits-hadits beliau memiliki derajat yang tinggi. Sebagian menyebutnya dengan julukan <em>Amirul Mukminin fil Hadits</em> (Pemimpin kaum mukmin dalam hal ilmu hadits). Dalam bidang ini, hampir semua ulama di dunia merujuk kepadanya.</p>
<p>Tempat beliau lahir kini masuk wilayah negara Uzbekistan, yang waktu itu memang menjadi pusat kebudayaan ilmu pengetahuan Islam sesudah Madinah, Damaskus dan Baghdad. Daerah itu pula yang telah melahirkan filosof-filosof besar seperti al-Farabi dan Ibnu Sina. Bahkan ulama-ulama besar seperti Zamachsari, al-Durjani, al-Biruni dan lain-lain, juga dilahirkan di Asia Tengah.<br />
<span id="more-68"></span><br />
<strong>Keluarga dan Guru Imam Bukhari</strong></p>
<p>Bukhari dididik dalam keluarga ulama yang taat beragama. Dalam kitab <em>As-Siqat</em>, Ibnu Hibban menulis bahwa ayah Bukhari dikenal sebagai orang yang <em>wara’</em> dalam arti berhati-hati terhadap hal-hal yang hukumnya <em>syubhat</em> (meragukan), terlebih pada hal-hal yang sifatnya haram. Ayahnya adalah seorang ulama bermazhab Maliki dan merupakan <em>mudhir</em> dari Imam Malik, seorang ulama besar dan ahli fikih. Ayahnya wafat ketika Bukhari masih kecil.</p>
<p>Perhatiannya kepada ilmu hadits yang sulit dan rumit itu sudah tumbuh sejak usia 10 tahun, hingga dalam usia 16 tahun beliau sudah hafal dan menguasai buku-buku seperti “<em>Al-Mubarak</em>” dan “<em>Al-Waki</em>”.</p>
<p>Bukhari berguru kepada Syekh Ad-Dakhili, ulama ahli hadits yang masyhur di Bukhara. Pada usia 16 tahun bersama keluarganya, ia mengunjungi kota suci Mekkah dan Madinah, dimana di kedua kota suci itu beliau mengikuti kuliah  guru-guru besar ahli hadits. Pada usia 18 tahun beliau menerbitkan kitab pertamanya “<em>Qudhaya as Shahabah wat Tabi’ien</em>” (Peristiwa-peristiwa Hukum di zaman Sahabat dan Tabi’in).</p>
<p>Bersama gurunya Syekh Ishaq, beliau menghimpun hadits-hadits <em>shahih</em> dalam satu kitab, dimana dari satu juta hadits yang diriwayatkan oleh 80.000 perawi disaring lagi menjadi 7.275 hadits. Di antara guru-guru beliau dalam memperoleh hadits dan ilmu hadits antara lain adalah Ali bin al-Madini, Ahmad bin Hanbali, Yahya bin Ma’in, Muhammad bin Yusuf al-Faryabi, Maki bin Ibrahim al-Bakhi, Muhammad bin Yusuf al-Baykandi dan Ibnu Rahwahih. Selain itu, ada 289 ahli hadits yang haditsnya dikutip dalam kitab <em>Shahih</em>-nya.</p>
<p><strong>Kejeniusan Imam Bukhari</strong></p>
<p>Bukhari diakui memiliki daya hapal tinggi, seperti dikatakan oleh kakaknya, Rasyid bin Ismail. Ia menuturkan, pernah Bukhari muda dan beberapa murid lainnya mengikuti kuliah dan ceramah cendekiawan Balkh. Tidak seperti murid lainnya, Bukhari tidak pernah membuat catatan kuliah. Ia sering dicela oleh teman-temannya karena tidak mencatat, namun Bukhari diam saja. Suatu hari, karena merasa kesal terhadap celaan itu, Bukhari meminta kawan-kawannya membawa catatan mereka, kemudian beliau membacakan secara tepat apa yang pernah disampaikan selama dalam kuliah dan ceramah tersebut. Tercenganglah mereka semua, lantaran Bukhari ternyata hafal di luar kepala 15.000 hadits, lengkap dengan keterangan yang tidak sempat mereka catat.</p>
<p>Ketika sedang berada di Baghdad, Imam Bukhari pernah didatangi oleh 10 orang ahli hadits yang ingin menguji ketinggian ilmu beliau. Dalam pertemuan itu, ke-10 ulama tersebut mengajukan 100 buah hadits yang sengaja “diputar-balikkan” untuk menguji hafalan Imam Bukhari. Ternyata hasilnya mengagumkan. Imam Bukhari mengulang kembali secara tepat masing-masing hadits yang salah tersebut, lalu mengoreksi kesalahannya, kemudian membacakan hadits yang benarnya. Ia menyebutkan seluruh hadits yang salah tersebut di luar kepala, secara urut, sesuai dengan urutan penanya dan urutan hadits yang ditanyakan, kemudian membetulkannya. Inilah yang sangat luar biasa dari sang imam, karena beliau mampu menghafal hanya dalam waktu satu kali dengar.</p>
<p>Selain terkenal sebagai seorang ahli hadits, Imam Bukhari ternyata tidak melupakan kegiatan lain, yakni olahraga. Ia amat mahir memanah, sehingga dikatakan sepanjang hidup sang Imam hanya dua kali luput dari sasaran saat memanah. Kesukaannya pada memanah itu timbul sebagai pengamalan sunnah Rasul yang mendorong dan menganjurkan kaum muslimin belajar menggunakan anak panah dan alat-alat perang lainnya.</p>
<p><strong>Karya-karya Imam Bukhari</strong></p>
<p>Karyanya yang pertama berjudul “<em>Qudhaya as Shahabah wat Tabi’ien</em>” (Peristiwa-peristiwa Hukum di zaman Sahabat dan Tabi’in). Kitab ini ditulisnya ketika masih berusia 18 tahun. Ketika menginjak usia 22 tahun, Imam Bukhari menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci bersama ibu dan kakaknya yang bernama Ahmad. Di sanalah beliau menulis kitab “<em>At-Tarikh</em>” (Sejarah) yang terkenal itu. Beliau pernah berkata, “Saya menulis buku <em>At-Tarikh</em> di atas makam Nabi Muhammad saw. di waktu malam bulan purnama.”</p>
<p>Karya Imam Bukhari lainnya antara lain adalah kitab <em>Al-Jami’ ash Shahih</em>, <em>Al-Adab al-Mufrad</em>, <em>At-Tharikh as-Shaghir</em>, <em>At-Tarikh al-Awsat</em>, <em>At-Tarikh al-Kabir</em>, <em>At-Tafsir al-Kabir</em>, <em>Al-Musnad al-Kabir</em>, <em>Kitab al- ‘Ilal</em>, <em>Raf’ul Yadain fis-Salah</em>, <em>Birrul Walidain</em>, <em>Kitab ad-Du’afa</em>, <em>Asami as-Sahabah</em> dan <em>Al-Hibah</em>. Diantara semua karyanya tersebut, yang paling monumental adalah kitab <em>Al-Jami’ as-Shahih</em> yang lebih dikenal dengan nama <a title="ringkasan shahih bukhari pustaka azzam" href="http://www.cordova-bookstore.com/azzam/ringkasan_shahihbukhari.htm"><strong><em>Shahih Bukhari</em></strong></a>.</p>
<p>Dalam menghimpun hadits-hadits sahih dalam kitabnya tersebut, Imam Bukhari menggunakan kaidah-kaidah penelitian secara ilmiah dan sah yang menyebabkan kesahihan hadits-haditsnya dapat dipertanggungjawabkan. Ia berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meneliti dan menyelidiki keadaan para perawi, serta memperoleh secara pasti kesahihan hadits-hadits yang diriwayatkannya.</p>
<p>Imam Bukhari senantiasa membandingkan hadits-hadits yang diriwayatkan, satu dengan lainnya, menyaringnya dan memilih mana yang menurutnya paling sahih. Sehingga kitabnya merupakan batu uji dan penyaring bagi hadits-hadits tersebut. Hal ini tercermin dari perkataannya, “Aku susun kitab <em>Al-Jami’ </em>ini yang dipilih dari 600.000 hadits selama 16 tahun.”</p>
<p>Banyak para ahli hadits yang berguru kepadanya, diantaranya adalah Syekh Abu Zahrah, Abu Hatim Tirmidzi, Muhammad Ibnu Nashr dan Imam Muslim bin al-Hajjaj (penulis kitab <em>Shahih Muslim</em>). Imam Muslim menuturkan, “Ketika Muhammad bin Ismail (Imam Bukhari) datang ke Naisabur, aku tidak pernah melihat seorang kepala daerah, para ulama dan penduduk Naisabur yang memberikan sambutan seperti apa yang mereka berikan kepadanya.” Mereka menyambut kedatangannya dari luar kota sejauh dua atau tiga marhalah (100 km), sampai-sampai Muhammad bin Yahya az-Zihli (guru Imam Bukhari) berkata,  “Barangsiapa hendak menyambut kedatangan Muhammad bin Ismail besok pagi, lakukanlah, sebab aku sendiri akan ikut menyambutnya.”</p>
<p><strong>Penelitian Hadits</strong></p>
<p>Untuk mengumpulkan dan menyeleksi hadits shahih, Bukhari menghabiskan waktu selama 16 tahun untuk mengunjungi berbagai kota guna menemui para perawi hadits, mengumpulkan dan menyeleksi haditsnya. Diantara kota-kota yang disinggahinya antara lain Bashrah, Kufah, Baghdad (Irak), Mesir, Hijaz (Mekkah, Madinah) sampai ke Asia Barat. Di Baghdad, Bukhari sering bertemu dan berdiskusi dengan ulama besar Imam Ahmad bin Hanbali. Dalam perburuan haditsnya itu Bukhari telah bertemu dengan 80.000 perawi. Dari merekalah beliau mengumpulkan dan menghafal satu juta hadits.</p>
<p>Namun, tidak semua hadits yang ia hapal kemudian diriwayatkan, melainkan terlebih dahulu diseleksi dengan sangat ketat, diantaranya apakah sanad (riwayat) dari hadits tersebut bersambung dan apakah perawi (periwayat) hadits itu terpercaya dan <em>tsiqqah</em> (kuat). Menurut Ibnu Hajar al-Asqalani, akhirnya Bukhari menuliskan sebanyak 9082 hadis dalam karya monumentalnya <em>Al-Jami’ as-Shahih</em> yang dikenal sebagai <em><strong><a title="ringkasan shahih bukhari gema insani" href="http://www.cordova-bookstore.com/gema/ringkasan_shahihbukhari.htm">Shahih Bukhari</a></strong></em>.</p>
<p>Dalam meneliti dan menyeleksi hadits dan diskusi dengan para perawi tersebut, Imam Bukhari sangat sopan. Kritik-kritik yang ia lontarkan kepada para perawi juga cukup halus namun tajam. Kepada para perawi yang sudah jelas kebohongannya ia berkata, “Perlu dipertimbangkan, para ulama meninggalkannya atau para ulama berdiam dari hal itu.” Sementara kepada para perawi yang haditsnya tidak jelas ia menyatakan, “Haditsnya diingkari.” Ia bahkan banyak meninggalkan perawi yang diragukan kejujurannya. Beliau berkata, “Saya meninggalkan 10.000 hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang perlu dipertimbangkan dan meninggalkan hadits-hadits dengan jumlah yang sama atau lebih, yang diriwayatan oleh perawi yang dalam pandanganku perlu dipertimbangkan.”</p>
<p>Banyak ulama atau perawi yang ditemui sehingga Bukhari banyak mencatat jati diri dan sikap mereka secara teliti dan akurat. Untuk mendapatkan keterangan yang lengkap mengenai sebuah hadits, mencek keakuratan sebuah hadits, ia berkali-kali mendatangi ulama atau perawi meskipun berada di kota-kota atau negeri yang jauh, seperti Baghdad, Kufah, Mesir, Syam, dan Hijaz. Beliau berkata, “Saya telah mengunjungi Syam, Mesir dan Jazirah masing-masing dua kali, ke Basrah empat kali, menetap di Hijaz selama enam tahun, dan tidak dapat dihitung berapa kali saya mengunjungi Kufah dan Baghdad untuk menemui ulama-ulama ahli hadits.”</p>
<p><strong>Metode Imam Bukhari dalam Menulis Kitab Hadits</strong></p>
<p>Sebagai intelektual muslim yang berdisiplin tinggi, Imam Bukhari dikenal sebagai pengarang kitab yang produktif. Karya-karyanya tidak hanya dalam disiplin ilmu hadits, tapi juga ilmu-ilmu lain, seperti tafsir, fikih, dan tarikh. Fatwa-fatwanya selalu menjadi pegangan umat sehingga ia menduduki derajat sebagai <em>mujtahid mustaqil</em> (ulama yang ijtihadnya independen), tidak terikat pada mazhab tertentu, sehingga mempunyai otoritas tersendiri dalam memberi pendapat hukum.</p>
<p>Pendapat-pendapatnya terkadang sejalan dengan Imam Abu Hanifah (Imam Hanafi, pendiri mazhab Hanafi), tetapi terkadang bisa berbeda dengan beliau. Sebagai pemikir bebas yang menguasai ribuan hadits shahih, suatu saat beliau bisa sejalan dengan Ibnu Abbas, Atha&#8217; ataupun Mujahid, dan bisa juga berbeda pendapat dengan mereka.</p>
<p>Diantara puluhan kitabnya, yang paling masyhur ialah kumpulan hadits shahih yang berjudul <em>Al-Jami’ as-Shahih</em>, yang belakangan lebih populer dengan sebutan <em>Shahih Bukhari</em>. Ada kisah unik tentang penyusunan kitab ini. Suatu malam Imam Bukhari bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad saw., seolah-olah beliau berdiri dihadapannya. Imam Bukhari lalu menanyakan makna mimpi itu kepada ahli mimpi. Jawabannya adalah, ia (Imam Bukhari) akan menghancurkan dan mengikis habis kebohongan yang disertakan orang dalam sejumlah hadits Rasulullah saw. Mimpi inilah, antara lain yang mendorong beliau untuk menulis kitab “<em>Al-Jami ‘as-Shahih</em>”.</p>
<p>Dalam menyusun kitab tersebut, Imam Bukhari sangat berhati-hati. Menurut Al-Firbari, salah seorang muridnya, ia mendengar Imam Bukhari berkata. “Saya susun kitab <em>Al-Jami’ as-Shahih</em> ini di Masjidil Haram, Mekkah, dan saya tidak mencantumkan sebuah hadits pun kecuali sesudah shalat <em>istikharah</em> dua rakaat memohon pertolongan kepada Allah, dan sesudah meyakini betul bahwa hadits itu benar-benar <em>shahih</em>.” Di Masjidil Haram-lah ia menyusun dasar pemikiran dan bab-babnya secara sistematis.</p>
<p>Setelah itu, ia menulis mukaddimah dan pokok pokok bahasannya di Rawdah Al-Jannah, sebuah tempat antara makam Rasulullah dan mimbar di Masjid Nabawi di Madinah. Barulah kemudian ia mengumpulkan sejumlah hadits dan menempatkannya dalam bab-bab yang sesuai. Proses penyusunan kitab ini dilakukan di dua kota suci tersebut dengan cermat dan tekun selama 16 tahun. Ia menggunakan kaidah penelitian secara ilmiah dan cukup modern sehingga hadits-haditsnya dapat dipertanggung-jawabkan.</p>
<p>Dengan bersungguh-sungguh ia meneliti dan menyelidiki kredibilitas para perawi sehingga benar-benar memperoleh kepastian akan kesahihan hadits yang diriwayatkan. Ia juga selalu membandingkan hadits satu dengan yang lainnya, memilih dan menyaring, mana yang menurut pertimbangannya secara nalar paling <em>shahih</em>. Dengan demikian, kitab hadits susunan Imam Bukhari benar-benar menjadi batu uji dan penyaring bagi sejumlah hadits lainnya. “Saya tidak memuat sebuah hadits pun dalam kitab ini kecuali hadits-hadits <em>shahih</em>”, katanya suatu hari.</p>
<p>Di kemudian hari, para ulama hadits menyatakan, dalam menyusun kitab <em>Al-Jami’ as-Shahih</em>, Imam Bukhari selalu berpegang teguh pada tingkat kesahihan paling tinggi dan tidak akan turun dari tingkat tersebut, kecuali terhadap beberapa hadits yang bukan merupakan materi pokok dari sebuah bab.</p>
<p>Menurut Ibnu Shalah, dalam kitab <em>Muqaddimah</em>, kitab <em>Shahih Bukhari</em> itu memuat 7275 hadits. Selain itu ada hadits-hadits yang dimuat secara berulang, dan ada 4000 hadits yang dimuat secara utuh tanpa pengulangan. Penghitungan itu juga dilakukan oleh Syekh Muhyiddin an-Nawawi dalam kitab <em>At-Taqrib</em>. Dalam hal itu, Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kata pendahuluannya untuk kitab <em>Fathul Bari</em> (yakni <em>syarah</em> atau penjelasan atas kitab <em>Shahih Bukhari</em>) menulis, semua hadits <em>shahih</em> yang dimuat dalam Shahih Bukhari (setelah dikurangi dengan hadits yang dimuat secara berulang) sebanyak 2.602 buah. Sedangkan hadits yang <em>mu’allaq</em> (ada kaitan satu dengan yang lain, bersambung) namun <em>marfu</em> (diragukan) ada 159 buah. Adapun jumlah semua hadits shahih termasuk yang dimuat berulang sebanyak 7397 buah. Perhitungan berbeda diantara para ahli hadits tersebut dalam mengomentari kitab <em>Shahih Bukhari</em> semata-mata karena perbedaan pandangan mereka dalam ilmu hadits.</p>
<p><strong>Terjadinya Fitnah</strong></p>
<p>Muhammad bin Yahya az-Zihli berpesan kepada para penduduk agar menghadiri dan mengikuti pengajian yang diberikannya. Ia berkata, “Pergilah kalian kepada orang alim dan saleh itu, ikuti dan dengarkan pengajiannya.” Namun tak lama kemudian ia mendapat fitnah dari orang-orang yang dengki. Mereka menuduh sang imam telah berpendapat bahwa “Al-Qur’an adalah makhluk”.</p>
<p>Hal inilah yang menimbulkan kebencian dan kemarahan gurunya, Az-Zihli, kepadanya. Az-Zihli berkata,  “Barangsiapa berpendapat bahwa lafadz-lafadz Al-Qur’an adalah makhluk, maka ia adalah ahli bid’ah. Ia tidak boleh diajak bicara dan majelisnya tidak boleh didatangi. Dan barangsiapa masih mengunjungi majelisnya, curigailah dia.” Setelah adanya ultimatum tersebut, orang-orang mulai menjauhi Imam Bukhari.</p>
<p>Sebenarnya, Imam Bukhari terlepas dari fitnah yang dituduhkan kepadanya itu. Diceritakan, seseorang berdiri dan mengajukan pertanyaan kepadanya, “Bagaimana pendapat Anda tentang lafadz-lafadz Al-Qur’an, makhluk ataukah bukan?” Bukhari berpaling dari orang itu dan tidak mau menjawab kendati pertanyaan itu diajukan sampai tiga kali.</p>
<p>Tetapi orang itu terus mendesak. Ia pun menjawab, “Al-Qur’an adalah kalam Allah, bukan makhluk, sedangkan perbuatan manusia adalah makhluk dan fitnah merupakan bid’ah.” Pendapat yang dikemukakan Imam Bukhari ini, yakni dengan membedakan antara yang dibaca dengan bacaan, adalah pendapat yang menjadi pegangan para ulama ahli <em>tahqiq</em> (pengambil kebijakan) dan ulama salaf. Tetapi dengki dan iri adalah buta dan tuli. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Bukhari pernah berkata, “Iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan bisa berkurang. Al-Quran adalah kalam Allah, bukan makhluk. Sahabat Rasulullah saw. yang paling utama adalah Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali. Dengan berpegang pada keimanan inilah aku hidup, aku mati dan dibangkitkan di akhirat kelak, insya Allah.”</p>
<p>Di lain kesempatan, ia berkata, “Barangsiapa menuduhku berpendapat bahwa lafadz-lafadz Al-Qur’an adalah makhluk, ia adalah pendusta.”</p>
<p><strong><em>Wafatnya Imam Bukhari</em></strong></p>
<p>Suatu ketika penduduk Samarkand mengirim surat kepada Imam Bukhari. Isinya, meminta dirinya agar menetap di negeri itu (Samarkand). Ia pun pergi memenuhi permohonan mereka. Ketika sampai di Khartand, sebuah desa kecil terletak dua farsakh (sekitar 10 Km) sebelum Samarkand, ia singgah terlebih dahulu untuk mengunjungi beberapa familinya. Namun, disana beliau jatuh sakit selama beberapa hari. Dan Akhirnya meninggal dunia pada 31 Agustus 870 M (256 H), di malam Idul Fitri, dalam usia 62 tahun kurang 13 hari. Beliau dimakamkan selepas shalat zuhur pada Hari Raya Idul Fitri.</p>
<p>Sebelum meninggal dunia, ia berpesan bahwa jika meninggal nanti jenazahnya agar dikafani tiga helai kain, tanpa baju dalam dan tidak memakai sorban. Pesan itu dilaksanakan dengan baik oleh masyarakat setempat. Beliau meninggal tanpa meninggalkan seorang anakpun.*</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cordova-bookstore.com/blog/imam-bukhari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>IBNU HAZM</title>
		<link>http://cordova-bookstore.com/blog/ibnu-hazm/</link>
		<comments>http://cordova-bookstore.com/blog/ibnu-hazm/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Jan 2011 10:43:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cordova</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahli Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Ahli Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Penulis Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Penulis Klasik Luar Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[ahli fikih ibnu hazm]]></category>
		<category><![CDATA[ahli fiqih andalusia]]></category>
		<category><![CDATA[al muhalla]]></category>
		<category><![CDATA[ibnu hazm]]></category>
		<category><![CDATA[ulama andalusia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cordova-bookstore.com/blog/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[Ibnu Hazm, Ahli Fiqih dan Ahli Hadits Besar dari Cordoba Abu Muhammad Ali bin Ahmad bin Sa&#8217;id bin Hazm atau lebih dikenal dengan nama Ibnu Hazm diakui sebagai seorang ulama yang memiliki kontribusi luar biasa dalam dunia Islam. Ia dikenal sebagai ahli fikih dan hadits sekaligus teolog, sejarawan, penyair, negarawan, akademisi dan politisi yang handal. Tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><b></b></p>
<div>
<h1><span style="color: #0000ff;">Ibnu Hazm, Ahli Fiqih dan Ahli </span></h1>
<p><b></b></p>
<h1><span style="color: #0000ff;">Hadits Besar dari Cordoba</span></h1>
<p><strong> </strong></p>
<div id="attachment_53" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><strong><a rel="attachment wp-att-53" href="http://cordova-bookstore.com/blog/ibnu-hazm/statuta-ibnu-hazm-di-spanyol-rep-19-mrt-11/"><img class="size-medium wp-image-53" title="patung-ibnu-hazm-di-spanyol" src="http://cordova-bookstore.com/blog/wp-content/uploads/2011/04/Statuta-Ibnu-Hazm-di-Spanyol-Rep.-19-Mrt-11-300x216.jpg" alt="" width="300" height="216" /></a></strong><p class="wp-caption-text">Patung Ibnu Hazm di Spanyol</p></div>
<p><strong>Abu Muhammad Ali bin Ahmad bin Sa&#8217;id bin Hazm</strong> atau lebih dikenal dengan nama <strong><a title="Ibnu Hazm" href="http://www.cordova-bookstore.com/blog/ibnu-hazm/ ‎">Ibnu Hazm</a></strong> diakui sebagai seorang ulama yang memiliki kontribusi luar biasa dalam dunia Islam. Ia dikenal sebagai ahli fikih dan hadits sekaligus teolog, sejarawan, penyair, negarawan, akademisi dan politisi yang handal. Tak kurang dari 400 judul kitab telah ditulisnya.</p>
<p><strong>Ibnu  Hazm</strong> lahir di kota Cordoba, Spanyol pada akhir Ramadhan 384 H atau bertepatan dengan 7 November 994 M. Ia tumbuh dan besar di kalangan para pembesar dan pejabat. Ayahnya, Ahmad, adalah seorang menteri pada masa pemerintahan Khalifah al-Mansur dan putranya, al-Muzaffar. Kendati demikian, kemewahan hidup yang dijalaninya itu tidak menjadikannya lupa diri dan sombong. Sebaliknya, ia dikenal sebagai seorang yang baik budi pekertinya, pemaaf dan penuh kasih sayang.<br />
<span id="more-52"></span><br />
Sebagai seorang anak pembesar, Ibn Hazm mendapat pendidikan dan pengajaran yang baik. Pada masa kecilnya, ia dibimbing dan diasuh oleh guru-guru yang mengajarkan Al-Qur&#8217;an, syair, dan tulisan indah Arab (<em>khatt</em>). Ketika meningkat remaja, ia mulai mempelajari fikih dan hadits dari gurunya yang bernama Husain bin Ali al-Farisi dan Ahmad bin Muhammad bin Jasur. Ketika dewasa, ia mempelajari bidang ilmu lainnya, seperti filsafat, bahasa, teologi, etika, mantik, dan ilmu jiwa disamping memperdalam lagi ilmu fikih dan hadits.</p>
<p>Penguasaan terhadap berbagai disiplin ilmu tersebut pada akhirnya menjadikan Ibnu Hazm seorang yang pakar dalam bidang agama. Kepakarannya ini bukan hanya diakui oleh kaum muslimin, namun juga diakui oleh kalangan sarjana Barat. Ada sebuah nasehat yang terkenal dari Ibnu Hazm yang ditujukan kepada para pencari ilmu yaitu, &#8220;Jika Anda menghadiri majelis ilmu, maka janganlah hadir kecuali kehadiranmu itu untuk menambah ilmu dan memperoleh pahala, dan bukannya kehadiranmu itu dengan merasa cukup akan ilmu yang ada padamu, mencari-cari kesalahan dari pengajar untuk menjelekkannya. Karena ini adalah perilaku orang-orang yang tercela, yang mana orang-orang tersebut tidak akan mendapatkan kesuksesan dalam ilmu selamanya.&#8221;</p>
<p><strong>Terjun ke politik</strong></p>
<p>Sebagai anak seorang menteri dan hidup di lingkungan istana, Ibnu Hazm mulai berkenalan dengan dunia politik ketika berusia lima tahun. Pada waktu itu terjadi kerusuhan politik dalam masa pemerintahan Khalifah Hisyam II al-Mu&#8217;ayyad (1010-1013 M) yang mengakibatkan Hisyam beserta ayah Ibnu  Hazm diusir dari lingkungan istana.</p>
<p>Keterlibatan Ibnu Hazm di bidang politik secara langsung terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Abdurrahman V al-Mustahdir (1023 M) dan Khalifah Hisyam III al-Mu&#8217;tamid (1027-1031 M). Pada masa kedua khalifah ini Ibnu Hazm menduduki jabatan menteri.</p>
<p>Pada masa pemerintahan Abdurrahman V al-Mustahdir, Ibnu Hazm bersama-sama dengan khalifah berusaha memadamkan berbagai kerusuhan dan mencoba merebut wilayah Granada dari tangan musuh. Akan tetapi dalam usaha merebut wilayah itu khalifah terbunuh dan Ibnu Hazm tertangkap. Ia kemudian dipenjarakan.</p>
<p>Hal serupa juga dialaminya pada masa pemerintahan Hisyam III al-Mu&#8217;tamid. Ibnu Hazm pernah dipenjarakan setelah sebelumnya ia ikut mengatasi berbagai keributan di istana. Selepas keluar dari tahanan, ia memutuskan untuk meninggalkan dunia politik dan keluar dari istana.</p>
<p>Sejak keluar dari istana, Ibnu Hazm tidak menetap di satu tempat tertentu, tetapi berpindah-pindah. Selain mencari ilmu, motivasinya hidup berpindah-pindah tempat karena ingin mencari ketenangan dan keamanan hidupnya. Sejak saat itu ia juga mencurahkan perhatiannya kepada penulisan kitab-kitabnya.</p>
<p>Kitab-kitab karangan Ibnu Hazm seperti yang dikatakan oleh anaknya, Abu Rafi&#8217;i al-Fadl, berjumlah 400 buah. Tetapi karyanya yang paling monumental adalah kitab <em>Al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam</em>(Ilmu Ushul Fikih; terdiri dari delapan jilid) dan kitab <em><strong><a title="almuhalla" href="http://www.cordova-bookstore.com/azzam/almuhalla.htm" target="_blank">Al-Muhalla</a></strong> </em>(Ilmu Fikih; terdiri dari tiga belas jilid). Kedua kitab ini menjadi rujukan utama para pakar fikih kontemporer.</p>
<p>Karya-karyanya yang lain di antaranya adalah: <em>Risalah fi Fada&#8217;il Ahl al-Andalus</em> (Risalah tentang Keistimewaan Orang Andalus), <em>al-Isal Ila Fahm al-Khisal al-Jami&#8217;ah li Jumal Syarai&#8217; al-Islam</em>(Pengantar untuk Memahami Alternatif yang mencakup Keseluruhan Syariat Islam), <em>al-Fisal fi al-Milal wa al-Ahwa&#8217; wa an-Nihal </em>(Garis Pemisah antara Agama, Paham dan Mazhab), <em>al-Ijma&#8217;</em> (Ijmak), <em>Maratib al-&#8217;Ulum wa Kaifiyah Talabuha</em>(Tingkatan-Tingkatan Ilmu dan Cara Menuntutnya), <em>Izhar Tabdil al-Yahud wa an-Nasara</em> (Penjelasan tentang Perbedaan Yahudi dan Nasrani), dan <em>at-Taqrib lihadd al-Mantiq </em>(Ilmu Logika).</p>
<p>Selain menulis kitab mengenai ilmu-ilmu agama, Ibnu Hazm juga menulis kitab sastra. Salah satu karyanya dalam bidang sastra yang sangat terkenal adalah yang berjudul <em>Tauq al-Hamamah </em>(Di Bawah Naungan Cinta). Kitab ini menjadi karya sastra terlaris sepanjang abad pertengahan. Kitab yang berisikan kumpulan anekdot, observasi, dan puisi tentang cinta ini tidak hanya dibaca oleh kalangan umat Islam, tetapi juga kaum Nasrani di Eropa.</p>
<p>Ibnu Hazm wafat di Manta Lisham pada 28 Sya&#8217;ban 456 H bertepatan pada tanggal 15 Agustus 1064 M. Wafatnya Ibnu  Hazm cukup membuat masyarakat kala itu merasa kehilangan dan terharu. Bahkan, Khalifah Mansur al-Muwahidi, khalifah ketiga dari Bani Muwahid termenung menatap kepergian Ibnu Hazm, seraya berucap: &#8220;Setiap manusia adalah keluarga Ibnu Hazm”.*</p>
<p>Sumber: Republika</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cordova-bookstore.com/blog/ibnu-hazm/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>IBNU QAYYIM</title>
		<link>http://cordova-bookstore.com/blog/ibnu-qayyim/</link>
		<comments>http://cordova-bookstore.com/blog/ibnu-qayyim/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Jan 2011 03:33:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cordova</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahli Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Ahli Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Penulis Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Penulis Klasik Luar Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[ibnu qayyim]]></category>
		<category><![CDATA[ibnu qayyim al jauziyah]]></category>
		<category><![CDATA[ibnu qoyyim]]></category>
		<category><![CDATA[ibnu qoyyim al jauziyah]]></category>
		<category><![CDATA[ibnu qoyyim al jawziyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cordova-bookstore.com/blog/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah Ibnu Qayyim lahir pada 7 Safar 691 H (4 Februari 1292 M) di desa Izra di Hauran, dekat kota Damaskus (Syria).  Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Syamsuddin Muhammad bin Abu Bakar bin Ayyoub bin Sa’ad al-Zar’i al-Dimasyqi al-Hanbali. Ibnu Qayyim al-Jauziyah memiliki keahlian di banyak bidang ilmu. Ia dikenal ahli dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><b></b></p>
<h1><span style="color: #0000ff;">Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah</span></h1>
<p><strong></strong><br />
<strong><a title="ibnu qayyim" href="http://www.cordova-bookstore.com/penulisbuku/ibnuqayyim.htm">Ibnu Qayyim</a></strong> lahir pada 7 Safar 691 H (4 Februari 1292 M) di desa Izra di Hauran, dekat kota Damaskus (Syria).  Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Syamsuddin Muhammad bin Abu Bakar bin Ayyoub bin Sa’ad al-Zar’i al-Dimasyqi al-Hanbali.</p>
<p><strong><a title="ibnu qayyim al-jauziyah" href="http://cordova-bookstore.com/blog/ibnu-qayyim/">Ibnu Qayyim al-Jauziyah</a></strong> memiliki keahlian di banyak bidang ilmu. Ia dikenal ahli dalam bidang <a title="buku tafsir" href="http://www.cordova-bookstore.com/bukutafsir.htm">tafsir Al-Qur’an</a>, <a title="buku hadits" href="http://www.cordova-bookstore.com/bukuhadits.htm">hadits</a>, ilmu kalam, fiqih dan usul fiqih, tapi juga ahli di bidang astronomi, kimia, psikologi, dan filsafat. Tapi lewat berbagai karyanya yang amat banyak, ia kemudian lebih diakui sebagai ‘ahli penyakit hati’ dan ilmu hadits-fiqih.</p>
<p>Gurunya yang pertama adalah ayahnya sendiri, yaitu Abu Bakar, yang mengajarkan ushuluddin (studi dasar-dasar agama).  Ia juga belajar pada Shihaab al-’Abir, Taqiyyuddin Sulaiman, Safiyyuddin al-Hindi, Ismail bin Muhammad al-Harrani dan lainnya. Namun gurunya yang paling terkenal adalah Syaikhul-lslam Ibnu Taimiyah (661-728 H / 1263-1328 M). Ibnu Qayyim menemani dan belajar dari Ibnu Taimiyah selama enam tahun, sampai guru besarnya itu meninggal di dalam penjara akibat fitnah orang-orang yang tidak suka dengan pemahamannya.<span id="more-45"></span></p>
<p>Ia juga menekuni tasawuf. Bidang inilah yang membedakannya dengan Ibnu Taimiyah yang bermazhab Hambali. Menurut Ibnu Katsir, salah seorang muridnya, Ibnu Qayyim senang beribadat dan peribadinya disukai masyarakat. “Aku tidak pernah melihat pada zaman kami ini, orang yang kuat beribadat seperti Ibnu Qayyim. Apabila sembahyang, sembahyangnya begitu lama. Beliau memanjang rukuknya dan juga sujudnya,” katanya.</p>
<p>Menurut peneliti Islam Dr. Iwadullah Jad Hijazi, karya Ibnu Qayyim dalam ilmu pengetahuan dan agama berjumlah 66 buah. Dalam bidang tafsir, Ibnu Qayyim menulis Kitab <em>al’Tibyan fi Iqsam Al’Qur’an</em>, <em>Tafsir al-Muuawwizatayn</em>, dan Tafsir Surah al-Fatihah yang terdapat dalam kitabnya <em>Madarij al-Salikin</em>.</p>
<p>Dalam bidang hadits, Ibnu Qayyim menulis <em>Tahdhib al-Siman</em> karya Abu Dawud, <em>al-Wabilal Sayyab min al-Kalam al-Tayyib</em> dan sebagainya.</p>
<p>Dalam fiqh dan ushul fiqh menyumbangkan karya kitab <em>Ilam al-Muwaqqi’in ‘an Rabb al-’Alarum</em>, <em>Al-Fawa’id li Ibn Qayyim</em>, <em>Al-Turuq al-Hukmiyyah fi al-Siyysah al-Shar’iyyah</em>, <em>Zaadul Ma&#8217;ad</em> dan lainnya. Sedangkan di bidang tasawuf (tazkiyatun nafs), ia menulis <em>Madarij al-Salikin</em>, <em><a title="taman para pecinta resensi" href="http://resensi.cordova-bookstore.com/taman-para-pecinta/">Rawdah al-Muhibbin wa Nuzhah al-Mushtaqin</a></em>, <em>Kitab al-Ruh</em>, <em>Hadi al-Arwah ila Bilad al-Afrah</em>, <em>Miftah dar al-Sa’adah</em>, dan lain-lain.</p>
<p>Ia juga menulis beberapa kitab dalam bidang ilmu kalam, filsafat, dan sejarah.</p>
<p>Sebagian buku-bukunya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan beredar luas di seluruh negeri ini.  Misalnya yang terkenal adalah: Madarijus Salikin, ROH, Asmaul Husna, dan Zaadul Ma&#8217;ad (Pustaka Al-Kautsar); <a title="tuntunan shalat rasulullah" href="http://www.cordova-bookstore.com/akbar/tuntunanshalat.htm">Tuntunan Shalat Rasulullah</a>, Bekal Hidup Muslim (Ringkasan Zaadul Ma&#8217;ad), Kesesatan Ramalan Bintang, Kunci Kebahagiaan, Tafsir Muawwadzatain, dan Mencapai Kesempurnaan (AKBAR Media); <a title="taman para pecinta" href="http://www.cordova-bookstore.com/khat/taman_parapecinta.htm">Taman Para Pecinta</a> (<a href="http://www.khatulistiwapress.com">Khatulistiwa Press</a>);  Penawar Hati yang Sakit (Gema Insani; Qadha dan Qadar, Shalawat Nabi, Sabar, dan Rahasia Dibalik Shalat (Pustaka Azzam).</p>
<p>Dalam hidupnya, Ibnu Qayyim sangat menekankan prinsip, bahwa hidup di dunia ini merupakan ujian dan cobaan dari Allah Ta’ala. Menurutnya, ujian yang dikenakan ke manusia itu pada dasarnya anugerah Allah, sebab dengan ujian dan anugerah itulah Allah Ta’ala menampakkan kasih sayang-Nya.</p>
<p>Karena sikapnya yang kritis, pemerintah memenjarakan Ibnu Qayyim bersama gurunya, Ibnu Taimiyah. Ia juga dihina dan diarak berkeliling serta didera dengan cambuk di atas seekor onta. Setelah gurunya wafat, barulah Ibnu Qayyim dilepaskan.</p>
<p>Meski sudah dilepas, tapi ia tetap kritis dan berpegang pada ijtihad serta menjauhi taqlid. Ia mengambil<em> istinbath</em> hukum berdasarkan petunjuk Al-Quran, Sunnah Nabawiyah, dan fatwa-fatwa shahih para sahabat. Karena itu, tak heran bila banyak tokoh-tokoh ternama pernah menjadi muridnya. Di antaranya, anaknya sendiri yang bernama Syarafuddin Abdullah dan Ibrahim, juga Ibnu Katsir ad-Dimasyqi dan Ibnu Rajab al-Hambali al-Baghdadi.</p>
<p>Ia meninggal di usia 60 tahun, tepatnya pada malam 13 Rajab 751 H (23 September 1350), dan dimakamkan di sebelah makam ayahnya di Pemakaman Al-Bab as-Saghir (Damaskus).*</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cordova-bookstore.com/blog/ibnu-qayyim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BUYA HAMKA</title>
		<link>http://cordova-bookstore.com/blog/buya-hamka/</link>
		<comments>http://cordova-bookstore.com/blog/buya-hamka/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Jan 2011 06:34:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cordova</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahli Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Penulis Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Penulis Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[buya hamka]]></category>
		<category><![CDATA[hamka]]></category>
		<category><![CDATA[hamka al azhar]]></category>
		<category><![CDATA[prof hamka]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir al azhar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cordova-bookstore.com/blog/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[Buya HAMKA Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan julukan Buya HAMKA, adalah salah satu ulama besar dan sastrawan Indonesia. Ia pernah pula terjun ke dalam dunia politik. HAMKA lahir di Maninjau, Sumatera Barat pada 17 Februari 1908 dan meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981 (73 tahun). Ayahnya juga seorang ulama, bernama Syekh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<div id="attachment_6" class="wp-caption alignleft" style="width: 258px"><strong><strong><a rel="attachment wp-att-6" href="http://cordova-bookstore.com/blog/buya-hamka/buyahamka/"><img class="size-full wp-image-6 " title="buyahamka" src="http://cordova-bookstore.com/blog/wp-content/uploads/2011/01/buyahamka.jpg" alt="" width="248" height="180" /></a></strong></strong><p class="wp-caption-text">Buya HAMKA</p></div>
<h1><span style="color: #0000ff;"><br />
</span></h1>
<h1><span style="color: #0000ff;">Buya HAMKA</span></h1>
<p><strong> </strong><br />
<span style="color: #000000;"><strong><a title="al azhar" href="http://www.cordova-bookstore.com/alazhar.htm" target="_blank">Haji Abdul Malik Karim Amrullah</a></strong></span> atau lebih dikenal dengan julukan <a title="tafsir al azhar" href="http://www.cordova-bookstore.com/tafsiralazhar.htm" target="_blank"><strong>Buya HAMKA</strong></a>, adalah salah satu ulama besar dan sastrawan Indonesia. Ia pernah pula terjun ke dalam dunia politik.</p>
<p><strong>HAMKA</strong> lahir di Maninjau, Sumatera Barat pada 17 Februari 1908 dan meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981 (73 tahun). Ayahnya juga seorang ulama, bernama Syekh Abdul Karim bin Amrullah (Haji Rasul), pelopor gerakan tajdid (reformasi Islam) di bumi Minangkabau.</p>
<p>Sebagai ulama, HAMKA pernah menjabat ketua Majelis Ulama Indonesia (1977-1981), tapi kemudian mengundurkan diri karena berselisih pandangan dengan pemerintah soal fatwa MUI tentang HARAM nya mengucapkan SELAMAT NATAL.<span id="more-5"></span></p>
<p>Hamka mendapat pendidikan rendah di Sekolah Dasar Maninjau sehingga kelas dua. Ketika usia HAMKA mencapai 10 tahun, ayahnya telah mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di situ Hamka mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab. Hamka juga pernah mengikuti pengajaran agama di surau dan masjid yang diberikan ulama terkenal seperti Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjopranoto dan Ki Bagus Hadikusumo.</p>
<p>Hamka mula-mula bekerja sebagai guru agama pada tahun 1927 di Perkebunan Tebing Tinggi, Medan dan guru agama di Padang Panjang pada tahun 1929. Hamka kemudian dilantik sebagai dosen di Universitas Islam, Jakarta dan Universitas Muhammadiyah, Padang Panjang dari tahun 1957 hingga tahun 1958. Setelah itu, beliau diangkat menjadi rektor Perguruan Tinggi Islam, Jakarta dan Profesor Universitas Mustopo, Jakarta. Dari tahun 1951 hingga tahun 1960, beliau menjabat sebagai Pegawai Tinggi Agama oleh Menteri Agama Indonesia, tetapi meletakkan jabatan itu ketika Sukarno menyuruhnya memilih antara menjadi pegawai negeri atau bergiat dalam politik Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi).</p>
<p>Hamka adalah seorang otodidiak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, beliau dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti dan Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga, beliau meneliti karya sarjana Perancis, Inggris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx dan Pierre Loti. Hamka juga rajin membaca dan bertukar-tukar pikiran dengan tokoh-tokoh terkenal Jakarta seperti HOS Tjokroaminoto, Raden Mas Soerjopranoto, Haji Fachrudin, AR Sutan Mansur dan Ki Bagus Hadikusumo sambil mengasah bakatnya sehingga menjadi seorang ahli pidato yang handal.</p>
<p>Hamka juga aktif dalam gerakan Islam melalui organisasi Muhammadiyah.  Ia mengikuti pendirian Muhammadiyah mulai tahun 1925 untuk melawan khurafat, bidaah, tarekat dan kebatinan sesat di Padang Panjang.</p>
<p>Mulai tahun 1928, beliau mengetuai cabang Muhammadiyah di Padang Panjang. Pada tahun 1929, Hamka mendirikan pusat latihan pendakwah Muhammadiyah dan dua tahun kemudian beliau menjadi konsul Muhammadiyah di Makassar. Kemudian beliau terpilih menjadi ketua Majlis Pimpinan Muhammadiyah di Sumatera Barat oleh Konferensi Muhammadiyah, menggantikan S.Y. Sutan Mangkuto pada tahun 1946. Ia menyusun kembali pembangunan dalam Kongres Muhammadiyah ke-31 di Yogyakarta pada tahun 1950.</p>
<p>Pada tahun 1953, Hamka dipilih sebagai penasihat pimpinan Pusat Muhammadiah. Pada 26 Juli 1977, Menteri Agama Indonesia, Prof. Dr. Mukti Ali melantik Hamka sebagai ketua umum Majlis Ulama Indonesia tetapi beliau kemudiannya meletak jawatan pada tahun 1981 karena nasihatnya tidak dipedulikan oleh pemerintah Indonesia.</p>
<p>Kegiatan politik Hamka bermula pada tahun 1925 ketika beliau menjadi anggota partai politik Sarekat Islam. Pada tahun 1945, beliau membantu menentang usaha kembalinya penjajah Belanda ke Indonesia melalui pidato dan menyertai kegiatan gerilya di dalam hutan di Medan. Pada tahun 1947, Hamka diangkat menjadi ketua Barisan Pertahanan Nasional, Indonesia. Ia menjadi anggota Konstituante Masyumi dan menjadi pemidato utama dalam Pilihan Raya Umum 1955.</p>
<p>Masyumi kemudiannya diharamkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1960. Dari tahun 1964 hingga tahun 1966, Hamka dipenjarakan oleh Presiden Sukarno karena dituduh pro-Malaysia. Semasa dipenjarakanlah maka beliau mulai menulis Tafsir al-Azhar yang merupakan karya ilmiah terbesarnya. Setelah keluar dari penjara, Hamka diangkat sebagai anggota Badan Musyawarah Kebajikan Nasional, Indonesia, anggota Majelis Perjalanan Haji Indonesia dan anggota Lembaga Kebudayaan Nasional, Indonesia.</p>
<p>Selain aktif dalam soal keagamaan dan politik, Hamka merupakan seorang wartawan, penulis, editor dan penerbit. Sejak tahun 1920-an, Hamka menjadi wartawan beberapa buah akhbar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam dan Seruan Muhammadiyah. Pada tahun 1928, beliau menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932,  beliau menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makasar.</p>
<p>Hamka juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat dan Gema Islam.</p>
<p>Hamka juga menghasilkan karya ilmiah Islam dan karya kreatif seperti novel dan cerpen. Karya ilmiah terbesarnya ialah <a title="tafsir al azhar" href="http://www.cordova-bookstore.com/tafsiralazhar.htm" target="_blank"><strong>Tafsir Al-Azhar</strong></a> dan antara novel-novelnya yang mendapat perhatian umum dan menjadi buku teks sastera di Malaysia dan Singapura termasuklah <strong>Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck</strong>, <strong>Di Bawah Lindungan Kaabah</strong> dan <strong>Merantau ke Deli</strong>.</p>
<p>Hamka pernah menerima beberapa anugerah pada peringkat nasional dan antarabangsa seperti anugerah kehormatan Doctor Honoris Causa, Universitas al-Azhar, 1958; Doktor Honoris Causa, Universitas Kebangsaan Malaysia, 1974; dan gelar Datuk Indono dan Pengeran Wiroguno dari pemerintah Indonesia.</p>
<p>Hamka telah pulang ke rahmatullah pada 24 Juli 1981, namun jasa dan pengaruhnya masih terasa sehingga kini dalam memartabatkan agama Islam. Ia bukan sahaja diterima sebagai seorang tokoh ulama dan sasterawan di negara kelahirannya, malah jasanya di seluruh alam Nusantara, termasuk Malaysia dan Singapura, turut dihargai.*</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cordova-bookstore.com/blog/buya-hamka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

